Sebenarnya perjalanan ini sudah dilakukan almost 1 year ago, yaa perjalanan yang dibiayai oleh kantorku alias dinas. Cuman, mo bikin jurnal perjalanannya sendiri belon sempat sampe saat ini. Sabtu malam aku berangkat dari Indonesia jam 19.30 dan sampe di Bologna Italy kira2 jam 9 pagi waktu setempat ato kira2 jam 3 sore waktu Jakarta. Berhubung cari pesawatnya yang ekonomis walhasil kita transit di Bangkok, Frankfurt, Munchen (
Turun dari kreta & kluar stasiun, aku agak takjub juga, sejauh mata memandang kok cuman air laut. Ternyata perjalanan belon selesai, abis itu kita naek perahu bermotor rame-rame ama orang2 bule yg kirain pada mo melancong ke Venezia. Perahu motornya si lumayan gede dibandingin ama perahu motor yang biasa ada di Gembira Loka, disebutnya disana : vaporetto. Perahu motor ini berhenti di halte2, misalnya San Marco, Rialto, dll. Jadi Venecia ini adalah sebuah provinsi yang berbentuk kepulauan yang berada di sebuah laguna (opo yo, semacam danau kali ya), terdiri dari 100 lebih pulau2 kecil dan dipulau2 itu ada kota2nya. Dengan keunikannya itu, kota ini terkenal dengan kanal2nya yg berjumlah sekitar 170an untuk menggantikan keberadaan jalan. Sebenarnya dia juga punya 400an jembatan untuk menghubungkan pulau2 disana, tapi jembatan itu lebih difungsikan sebagai tempat pejalan kaki daripada untuk kendaraan bermotor. Emang Venecia ini konon ádalah kota hunian terbesar di Eropa yang free dari kendaraan bermotor. Makanya bule2 yang kukira melancong itu mungkin sebagian adalah penduduk asli situ yg emang pake vaporetto untuk sarana transportasi.
Selaen perahu bermotor yg aku pake itu, ada perahu traditional setempat, yaitu góndola. Góndola adalah perahu dayung tradisional Venezia dengan dayung tunggal.
Selama berabad–abad gondola menjadi alat transportasi penting di Venezia yang unik itu. Catatan tertua tentang gondola dibuat tahun 1094 dan di situ tertulis kata gondulam.
Pendayung gondola biasanya berdiri di bagian belakang dan gerakan dayungnya yang disebut remo adalah mendorong, bukan menarik. Tangkai remo itu dikunci ke tubuh gondola dengan alat yang dinamai forcola. Sejak awal gondola tidak pernah memiliki tiang. Kabin penumpang kecil dan sempit, kadang ditutup dengan semacam tenda agar penumpangnya tidak kehujanan. Bagian depan gondola memiliki hiasan dari besi yang disebut ferro.
Pada abad ke–18, ada ribuan gondola memenuhi kanal–kanal di Venezia. Namun, jumlahnya kini menyusut menjadi sekitar ratusan saja. Keberadaan gondola perlahan tersingkir dengan kehadiran perahu motor yang lebih cepat. Selain itu, untuk pengangkutan yang lebih massal ada perahu motor yang menyinggahi beberapa halte atau stazi, seperti di Ferrovia, Lido, Piazzale Roma, San Marco, dan Rialto.
Untuk saat ini, Gondola mostly disewakan kepada turis yang melancong kesana, ato dipake untuk acara nikahan, bahkan pemakaman. Ciri khas pendayung gondola adalah mengenakan celana panjang hitam serta kaus bergaris–garis hitam putih. Mereka pun melengkapi penampilannya dengan topi hitam. Sambil mendayung, mereka senang menyanyi keras–keras sehingga gema suaranya memantul di dinding–dinding rumah dan gedung di sepanjang kanal.
Naik gondola berarti siap menjadi tontonan.Kita memotret dan menyaksikan pemandangan sekitar, sedangkan penumpang di perahu motor, orang–orang yang berdiri di dermaga atau jembatan serta jendela bangunan pun asyik menonton dan memotret kita.
Akhirnya kita turun di halte San Marco. Dari situ kita menuju ke sebuah area lapang yang dikelilingi bangunan guede banget & tuwir pol. Pokoknya seleraku banget deh, klasik, namanya Piazza de San Marco. Di salah satu sisi terdapat katedral yaitu Basilica di San Marco.
Di lapangan itu udah ditata meja2 beserta kursi yang disediakan untuk para pengunjung menyantap makan, dan di bagian pinggir antara lapangan dan gedung ada satu grup pemain orkes dengan berbagai alat musik, memainkan lagu2 klasik. Jadinya suasananya trasa nyante bgt, makan di outdoor sambil dengerin musik dengan burung2 merpati beterbangan di area lapangan, sempet kepikiran juga si tentang flu burung hehehe….
h o n e y