Monday, July 31, 2006

Babak I : Venezia, Italy

Sebenarnya perjalanan ini sudah dilakukan almost 1 year ago, yaa perjalanan yang dibiayai oleh kantorku alias dinas. Cuman, mo bikin jurnal perjalanannya sendiri belon sempat sampe saat ini. Sabtu malam aku berangkat dari Indonesia jam 19.30 dan sampe di Bologna Italy kira2 jam 9 pagi waktu setempat ato kira2 jam 3 sore waktu Jakarta. Berhubung cari pesawatnya yang ekonomis walhasil kita transit di Bangkok, Frankfurt, Munchen (Munich) baru ke Bologna. Kalo pake penerbangan kelas satu, waktu yang dikonsumsi sebenarnya ga selama itu. Walo sebenernya capek, tapi kita ber-6 (sebenernya yang pengen cuman 3 orang) kepingin banget puter2 Italy. Bruntung banget ternyata lokasi hotel kita berseberangan ama stasiun kereta api. Setelah liat jadwal kereta api setempat, yaitu Intercity, kita sepakat untuk mengunjungi Venice (Italia : Venezia), dengan pertimbangan kota yang layak didatengin dengan jarak yang paling dekat. Jadi, “PT KAI” di Italy yang disebut juga trenitalia ini punya 2 jenis kereta api yaitu Intercity, kereta dengan rute kota2 kecil di Italy aja, dia brenti di stasiun2 kecil aja, semacam Senja Yogya lah kalo disini. Selain itu ada Eurostar, kereta yang hanya brenti di kota2 besar, misalnya Roma,Bologna, Milan. So pasti si Eurostar ni harganya lebih selangit daripada Intercity. Naa, buat ke Venice ini, kita memilih Intercity aja dengan tarif 30an euro per orang, lumayan juga kan kalo dirupiahin dah bisa pp ke yogya pake kreta :p

Turun dari kreta & kluar stasiun, aku agak takjub juga, sejauh mata memandang kok cuman air laut. Ternyata perjalanan belon selesai, abis itu kita naek perahu bermotor rame-rame ama orang2 bule yg kirain pada mo melancong ke Venezia. Perahu motornya si lumayan gede dibandingin ama perahu motor yang biasa ada di Gembira Loka, disebutnya disana : vaporetto. Perahu motor ini berhenti di halte2, misalnya San Marco, Rialto, dll. Jadi Venecia ini adalah sebuah provinsi yang berbentuk kepulauan yang berada di sebuah laguna (opo yo, semacam danau kali ya), terdiri dari 100 lebih pulau2 kecil dan dipulau2 itu ada kota2nya. Dengan keunikannya itu, kota ini terkenal dengan kanal2nya yg berjumlah sekitar 170an untuk menggantikan keberadaan jalan. Sebenarnya dia juga punya 400an jembatan untuk menghubungkan pulau2 disana, tapi jembatan itu lebih difungsikan sebagai tempat pejalan kaki daripada untuk kendaraan bermotor. Emang Venecia ini konon ádalah kota hunian terbesar di Eropa yang free dari kendaraan bermotor. Makanya bule2 yang kukira melancong itu mungkin sebagian adalah penduduk asli situ yg emang pake vaporetto untuk sarana transportasi.

Selaen perahu bermotor yg aku pake itu, ada perahu traditional setempat, yaitu góndola. Góndola adalah perahu dayung tradisional Venezia dengan dayung tunggal.

Selama berabad–abad gondola menjadi alat transportasi penting di Venezia yang unik itu. Catatan tertua tentang gondola dibuat tahun 1094 dan di situ tertulis kata gondulam.

Pendayung gondola biasanya berdiri di bagian belakang dan gerakan dayungnya yang disebut remo adalah mendorong, bukan menarik. Tangkai remo itu dikunci ke tubuh gondola dengan alat yang dinamai forcola. Sejak awal gondola tidak pernah memiliki tiang. Kabin penumpang kecil dan sempit, kadang ditutup dengan semacam tenda agar penumpangnya tidak kehujanan. Bagian depan gondola memiliki hiasan dari besi yang disebut ferro.

Pada abad ke–18, ada ribuan gondola memenuhi kanal–kanal di Venezia. Namun, jumlahnya kini menyusut menjadi sekitar ratusan saja. Keberadaan gondola perlahan tersingkir dengan kehadiran perahu motor yang lebih cepat. Selain itu, untuk pengangkutan yang lebih massal ada perahu motor yang menyinggahi beberapa halte atau stazi, seperti di Ferrovia, Lido, Piazzale Roma, San Marco, dan Rialto.

Untuk saat ini, Gondola mostly disewakan kepada turis yang melancong kesana, ato dipake untuk acara nikahan, bahkan pemakaman. Ciri khas pendayung gondola adalah mengenakan celana panjang hitam serta kaus bergaris–garis hitam putih. Mereka pun melengkapi penampilannya dengan topi hitam. Sambil mendayung, mereka senang menyanyi keras–keras sehingga gema suaranya memantul di dinding–dinding rumah dan gedung di sepanjang kanal.

Naik gondola berarti siap menjadi tontonan.Kita memotret dan menyaksikan pemandangan sekitar, sedangkan penumpang di perahu motor, orang–orang yang berdiri di dermaga atau jembatan serta jendela bangunan pun asyik menonton dan memotret kita.

Akhirnya kita turun di halte San Marco. Dari situ kita menuju ke sebuah area lapang yang dikelilingi bangunan guede banget & tuwir pol. Pokoknya seleraku banget deh, klasik, namanya Piazza de San Marco. Di salah satu sisi terdapat katedral yaitu Basilica di San Marco.

Di lapangan itu udah ditata meja2 beserta kursi yang disediakan untuk para pengunjung menyantap makan, dan di bagian pinggir antara lapangan dan gedung ada satu grup pemain orkes dengan berbagai alat musik, memainkan lagu2 klasik. Jadinya suasananya trasa nyante bgt, makan di outdoor sambil dengerin musik dengan burung2 merpati beterbangan di area lapangan, sempet kepikiran juga si tentang flu burung hehehe….

Friday, July 14, 2006

aku vs gue...

Pernah ada yang bilang kalo lagi ngobrol sama orang laen pake 'aku-akuan en kamu-kamuan' itu ga sopan, mendingan pake gue ato elo gitu. Aku denger itu pas baru mulai kerja di jakarta, bener-bener baru dalam hitungan hari. Ya taulah, orang udik gitu loh, jadi ngerasa kalo itu agak2 nyangkut aku (ge-er....). Paling risih kalo suruh ngomong pake lu-gue. Emangnya si Doel kalo ngomong sama Mandra, pamannya sendiri, gayanya kan lu-gue gitu. Untung pas itu ada temenku, si Frita, yang anak jakarta tapi backgroud keluarganya dari jawa juga, menanggapi kalo kayak gitu mah tergantung ama sapa yang dihadapi. Misalnya kayak aku gini kan ga biasa banget pake bahasa si Doel anak Betawi gitu (bukan sukuisme....tapi emang susyeeeh ngubah sesuatu yang dah mendarah daging), masa dipaksain ngomong lu gue....ancurrrr aja. Sekarang aku dah 3 taon lebih dikit di Jakarta..huwaaaaaa....ga kerasa deh! Sampe saat ini logatku masih kerasa banget 'jawa'nya. Lingkungan kerjaku banyakan orang-orang Sunda, tapi tetep aja aku ga kebawa logat mereka, ya gimana bisa, wong aku tinggal bareng kakakku, pasti pake basa Jawa terus. Yang ada si, malah temen2 kantorku yang kadang ikut 'njawani' hehehe.....Untungnya ada beberapa orang jawa disini, jadi aku ga tersiksa banget musti pake bahasa Indo terus. Kayaknya aku musti merubah CV-ku jadi fasih berbahasa "Javanesse" aja :D At least aku tau untuk masalah bahasa ini kadang timbul kesalahpahaman, so kitalah yg musti ngerti kalo ada yg ga cocok ma apa yg kita rasa, itu belum tentu karna orang itu sengaja. Apa yang membuatmu unik adalah segala perbedaan yg ada.

Wednesday, July 12, 2006

Sahabat

Ini sekedar kilas balik aja ke tempo dulu..... Saat aku deket sama seseorang yang sekarang berstatus cowokku (:p), aku emang ga ngomong2 sama temen-temen deketku. Dan saat itu aku sadar kok bahwa aku mengecewakan beberapa dari mereka. Mungkin mereka berpikir apa gunanya jadi temen deket kalo untuk hal seperti itu tidak di-share ke mereka. Ya, mungkin salah satu tipikalku adalah agak introvert untuk hal2 yg bersifat personal, dan itu relatif, mungkin lebih banyak orang menganggap masalah hubungan dengan lawan jenis itu hal yang tidak terlalu tabu untuk didiskusikan bersama teman. Dan kenapa aku berbuat seperti itu....? There is always a reason. Saat itu aku merasa tidak yakin dengan hubungan kami. Kenapa aku berpikir seperti itu, hehehe...seperti kubilang tadi sebelumnya, selalu ada sebab akibat untuk semua hal. Dan untuk membeberkan masalah itu di blog ini, kayaknya perlu buka diary-ku bertaon2 deh, yang artinya sama dengan menyambung tali-tali sejarah yang panjang dan saling berkaitan (weeeeeeeekkkkk...) yang percaya deh, ga bakal abis-abis. Singkat cerita, kisahku ga cocok buat konsumsi publik. Yang pengen kutekankan disini adalah, ketika aku tidak memberitahu teman-temanku pada waktu itu , bukan berarti aku mengecilkan arti mereka semua. Semua tidak semudah yang dipikirkan orang dan bisa dilakukan seketika. Walopun pada kenyataannya, banyak hal-hal yang akan terasa lebih mudah saat dilakukan bersama-sama dengan sahabat. Untuk itu aku minta maaf banget bila ada yang merasa tidak cocok dengan apa yang telah kulakukan. Friends...to tell you the truth....you're the important piece of me. What can I do without you all. Dedicated to all of my friend, past, present and future..... Semoga besok akan lebih baik buat kita semua.... love...........:D

FORZA ITALIA

Italia 5 - Perancis 3 (1-1) Yesssss..............Italia campione del mondo

Apapun kata orang tentang Italia...yang penting Italia juara. Aku udah nge-fans sama tim azzuri ini sejak jaman SD dulu pas sering dibangunin buat diajakin nonton bola malem-malem ama kakakku yg cowok, notabene sebelum udah cukup nalar bahwa pemain bola Itali itu guanteng2 (hehehe....). Sejak 1994 aku udah ga suka ama Brasil karena ngalahin Italia di final world cup USA,beteeeee.....(hihhi....childish banget ya, tapi sampe sekarang aku tetep ga bisa suka sama Brasil). Sejak 1998 aku udah ga suka sama Perancis, ga tau kenapa gitu. Dulu pemain favoritku Paolo Maldini, sekarang Alessandro Nesta & Fabio Cannavaro (apalagi pas masih gondrong...mmmmmmmhhh :p). Favoritku emang yang jadi lini belakang.

Bagiku untuk bertahan itu adalah sesuatu yang sangat sulit dan sangat krusial. Catenaccio yang dianut Italia, tidak murni pertahanan, liat aja skor2 gol yang mereka cetak sejak penyisihan sampe final serta rekor kebobolan gawang. Ada yang bilang main bola kok bertahan. Grup Itali mengajarkan bahwa dengan pertahanan yang solid, mereka bisa bikin frustasi lawan , dan disaat itu mereka bisa memanfaatkan situasi dengan baik. Yang lain juga musti belajar bahwa untuk menghadapi tembok yang kukuh, mereka harus menghindari rasa frustasi apalagi sampe emosi.

Sebenarnya sayang juga sih Si Zizou musti dikartu merah gara-gara nyeruduk Materazzi. Dia kan pemain besar, harusnya tetap bisa mengontrol emosi bagaimana pun provokasi lawan apalagi disaat-saat penting bagi tim Perancis yang amat sangat menggantungkan nyawa tim ke pundak Zizou. Harusnya dia tetep ada di tengah lapangan untuk menyaksikan dan merasakan kekalahannya dan kekalahan timnya, karena Itali tetap akan menang meskipun ada 10 Zinedine Zidane disitu.Hehehe....sori ya buat penggemar Zizou....bukan maksudku :)

Tenang…tenang…itu bukan ulasan sepakbola. Sudah terlalu banyak komentator-komentator dadakan di Indonesia. Hanya sebuah ungkapan kegembiraan atas kemenangan tim favoritku…..BRAVO ITALIA.